Persekutuan Rahasia WWF dan Lafarge

 Siti Maemunah | JATAM / CSF Indonesia

 
Di koran harian untuk COP 15 UNFCCC,  the COP 15 Post edisi 9 Desember 2009 tepat di halaman 7 terpampang iklan sehalaman penuh. Tertulis disitu, Bila berbicara tentang perubahan iklim, waktunya bagi kita untuk tidak erbicara tentang diri kita sendiri”, ini pernyataan  Mukhtar Kent, CEO Coca Cola, yang memenuhi setengah halaman iklan milik WWF yang berkampanye entang Climate Saver atau para penyelamat Iklim pada COP 15 Copenhagen.
Di bawah iklan ini ada nama dan lambang dua lusin korporasi, mulai pabrik semen dari Perancis – Lafarge, hingga perusahaan minuman ringan Coca cola. Merekalah yang disebut WWF sebagai penyelamat Iklim.

 

WWF dan Lafarge baru saja memperpanjang kerjasamanya empat tahun ke depan. Mereka sudah bekerjasama sejak 2000. Dalam websitenya, Lafarge menyebutkan kerjasama ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbonnya . Apa saja proyek yang dilakukan, dan berapa dana yang didapat WWF dari Lafarge, sulit iketahui. Tapi yang jelas, Lafarge memiliki  pabrik semen di Indonesia, PT Semen Andalas Indonesia di Aceh (PT SAI/Lafarge).

Sekitar 99 persen saham PT SAI dimiliki Lafarge, perusahaan Semen terbesar kedua di dunia dari Perancis. Pabrik mereka sempat terhenti akibat gelombang tsunami akhir 2004 silam. Pada 2006, PT.SAI-Lafarge kembali melakukan rekonstruksi dan meningkatkan produksinya dari 1 juta ton menjadi 1,8 juta ton pertahun . Mereka lantas memperluas kawasan tambang,PT SAI membangun pabrik, PLTU dan pelabuhan.

WF adalah LSM konservasi internasional yang mendorong upaya pelestarian global, bekerja di 100 negara di dunia . Kabarnya, WWF adalah salah satu organisasi lingkungan terbesar di dunia. Ia mempunyai 28 organisasi nasional dan kantor pusatnya di Geneva Swiss . Para tahun 1988, donatur kakap WWF tercatat Chevron dan Exxon, Philip Morris, Mobil, dan Morgan Guaranty Trust.

Tapi di sekitar lokasi PT SAI/Lafarge, tak banyak warga tahu bahwa Lafarge sejak lama bekerja dengan WWF. Tapi warga 34 desa di kecamatan Lhok Nga dan Leupung, Aceh Besar, Provinsi Aceh tahu benar bagaimana sepak terjang Lafarge. Pada 1 Desember lalu, perwakilan warga bahkan menggelar konferensi pers mendesak penutupan PT. SAI/Lafarge . Tuntutan itu terkait dengan pelanggaran HAM PT SAI/Lafarge sejak awal operasinya pada 1982.

Penyelamat Iklim?

Lafarge adalah kontributor utama atas kerusakan ekosistem dan keragaman hayati di Kawasan Karst Lhok Nga seluas 700 Ha. Ini masuk dalam bagian kosistem Ulu Masen. Penggalian bahan semen telah merusak daerah tangkapan air. Di musim hujan banjir kerap terjadi di Gua Pucuk Krueng, sejak perusahaan itu beroperasi. Pencemaran udara hal yang biasa. Salah satu yang dirasakan masyarakat setempat yaitu terbatasnya jarak pandang pengguna kendaraan yang melintas di pagi atau malam hari sepanjang ruas jalan Banda Aceh hingga Meulaboh dari titik Jembatan Krueng Raba Kecamatan Lhoknga. Bukti lainnya disebutkan Yulfan, juru bicara organisasi wakil masyarakat Komite Masyarakat Bersatu Kecamatan Lhoknga dan Leupung, PT. SAI/Lafarge menjadi penyebab tingginya angka penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan TBC di sekitar tambang dan pabrik semen. Penyakit ISPA juga meningkat 80 persen, peringkat tertinggi di Kecamatan Lhok Nga dibanding sebelum perusahaan beroperasi .
 
Warga desa Naga Umbang juga mengeluhkan runtuhnya sumber ekonomi utama mereka dari kebun Cengkeh dan buah-buahan, yang tak mau  berbunga lagi sejak debu perusahaan mencemari kawasan sekitar. Ini juga menimpa lahan-lahan sawah. Padahal sebagian besar warga menggantungkan hidup pada bertani, berkebun, berdagang, dan nelayan. Air sawah, sumur, sungai, bahkan kebun mereka mengering airnya.

Suara ledakan dinamit yang dilakukan 2 kali sehari membuat  perempuan dan anak-anak trauma, sebab kampung-kampung tersebut sebelum Perdamaian Helsinki adalah kawasan konflik. Sumur dan rumah penduduk retak akibat peledakan, dan longsoran batuan menutup sawah penduduk, yang jaraknya hanya 200 meter dari lokasi pabrik.

Sebelum bencana Tsunami, PT. SAI/Lafarge memproduksi semen 1 juta ton per  tahun, hanya 2 persen yang memenuhi kebutuhan Aceh, selebihnya diekspor.Mereka akan meningkatkan produksinya hingga 1,8 juta ton dan telah membangun PLTU batubara berkekuatan 32 MWatt.

Tapi permainan mejadi “Sang Penyelamat” ala WWF dan Lafarge ini bukan hal baru. Jika anda masuk bandara Copenhagen dan berjalan sepanjang lorong menuju jalan keluar, banyak sekali iklan perusahaan skala besar mulai Shell, Siemens, Bayer dan lainnya. “Untuk energi masa depan, kita butuh mewujudkan pengelolaan karbon, begitu salah satu iklan Shell.” Entah berapa dana kerjasama Lafarge dan WWF sehingga perusahaan bisa jadi bagian dari Climate Saver. Mengapa dia disebut sebagai Penyelamat iklim, padahal  menghancurkan kehidupan warga sekitar Lhoknga dan Leupung Aceh besar? Mengapa dipromosikan sebagai penyelamat iklim padahal membangun PLTU  berbahan bakar batubara, energi yang paling kotor dan penyumbang utama pemanasan global dan perubahan iklim? Mengapa lacur menyebut diri penyelamat iklim padahal kerusakan lingkungan meluas karena peningkatan produksi semennya yang hampir dua kali lipat tahun depan? Hanya WWF dan Lafarge yang bisa menjawab persekutuan jahanam dan rahasia yang mereka tandatangani. ***